Toxic Positivity: Mengapa Tidak Semua Hal Harus Dipandang Positif



Di dunia yang dipenuhi dengan slogan "good vibes only" dan "choose happiness", banyak dari kita tanpa sadar mempraktikkan sesuatu yang dikenal sebagai toxic positivity. Meskipun maksudnya baik, yaitu untuk menyebarkan semangat positif, pendekatan ini sering kali justru meremehkan perasaan negatif dan mengabaikan pentingnya menghadapi emosi secara seimbang.  


Toxic positivity terjadi ketika seseorang memaksakan sikap positif dengan mengesampingkan atau mengabaikan emosi negatif, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Contohnya, ketika seseorang bercerita tentang kegagalannya, dan kita merespons dengan, "Itu bukan masalah besar, fokus saja pada hal positif." Padahal, respons seperti itu tidak menyelesaikan masalah, melainkan membuat orang merasa tidak valid atau tidak didengar.  


Dampak toxic positivity bukan hanya emosional tetapi juga mental. Ketika kita terus-menerus menekan perasaan negatif, hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Studi menunjukkan bahwa menekan emosi secara terus-menerus berisiko pada kesehatan mental dan fisik, termasuk gangguan tidur dan respons trauma yang lebih intens.  


Kebiasaan ini berakar dari pola asuh dan budaya yang sering mengabaikan emosi negatif. Ketika kecil, banyak dari kita diberitahu untuk berhenti menangis dan tidak menunjukkan kesedihan. Akibatnya, kita tumbuh dengan kebingungan tentang bagaimana mengelola emosi yang kompleks dan cenderung menghindarinya.  


Namun, penting untuk dipahami bahwa emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan adalah bagian alami dari kehidupan. Sama seperti pelangi membutuhkan berbagai warna, hidup juga membutuhkan beragam emosi untuk menciptakan keseimbangan. Emosi negatif memberikan ruang bagi kita untuk tumbuh, belajar, dan memahami diri sendiri dengan lebih baik.  


Bagaimana cara kita mengubah narasi toxic positivity? Kuncinya adalah empati dan validasi. Alih-alih memberikan solusi cepat seperti "Kamu pasti bisa!" cobalah untuk mendengarkan dan berkata, "Saya mendengar kamu. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?" Dengan begitu, kita menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk berbagi tanpa merasa dihakimi.  


Tidak ada jalan pintas untuk menghadapi emosi. Seperti mendayung perahu melewati ombak, kita harus melalui semua perasaan untuk mencapai tempat yang lebih tenang. Terapkan prinsip ABCD: Accept (menerima emosi), Balance (menjaga keseimbangan), Communicate (berkomunikasi dengan empati), dan Discover (menemukan cara sehat untuk mengelola stres).  


Pada akhirnya, tujuan dari sikap positif bukanlah untuk mengabaikan kenyataan, melainkan untuk menerimanya dengan penuh kesadaran. Dengan memahami bahwa semua emosi memiliki tempatnya, kita dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri dan orang lain. Jadi, mari ubah narasi dari toxic positivity menjadi penerimaan penuh terhadap semua perasaan yang ada.  

Berikut adalah 7 poin kesimpulan dari artikel diatas :

  1. Definisi Toxic Positivity: Ini adalah sikap yang memaksa seseorang untuk selalu berpikir positif, bahkan dengan mengabaikan atau meremehkan emosi negatif mereka.

  2. Efek Negatif: Toxic positivity dapat menyebabkan seseorang merasa tidak valid, disconnect secara emosional, bahkan memunculkan rasa bersalah atau malu.

  3. Bahaya Internal: Internalisasi toxic positivity dapat menyebabkan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres kronis.

  4. Emosi yang Seimbang: Semua emosi—positif maupun negatif—memiliki tempatnya masing-masing. Tidak realistis untuk selalu bahagia.

  5. Kebiasaan Sosial: Dari kecil, kita diajarkan untuk menekan emosi negatif, misalnya ketika diminta berhenti menangis. Ini membentuk kebiasaan mengabaikan perasaan sulit.

  6. Mengubah Narasi: Alih-alih memberikan solusi dangkal, kita harus mendukung dengan empati, mendengarkan, dan menerima emosi orang lain.

  7. Cara Mengatasi: Gunakan prinsip ABCD: Accept (menerima), Balance (menjaga keseimbangan), Communicate (berkomunikasi dengan baik), dan Discover (menemukan cara sehat mengelola stres).

Comments

Popular posts from this blog

Framework kuesioner untuk menemukan arah hidup tanpa penilaian

Assessment Kesiapan Digital Freelance & Marketing Online